postingan ini saya buat untuk tugas MPKMB

nama: Dyah Sekar Alamanda

nrp: F24100045

Laskar: 25

semoga aja bermanfaat buat yang lainnya juga, enjoy this one :D

PROLOG: postingan ini ada 2 cerita di dalamnya, yang pertama cerita inspirasi dari pengalaman saya. yang kedua cerita inspirasi dari pengalaman tokoh yang menginspirasi saya.

Pengorbanan Menghasilkan Kesuksesan

Life is the matter of choice—hidup adalah pilihan. Ya, aku tahu itu, berulang kali ku dengar dan ku baca kalimat itu. Klise, sungguh klise. Tapi tak dapat ku sangkal dan ku bantah. Aku sering memilih dalam hidup ini. Dan pilihan membawaku kepada pengorbanan. Pilihan yang mana yang akan ku korbankan? Dan pada akhirnya, pengorbanan menghasilkan perubahan. Karena dengan mengorbankan sesuatu berarti aku meninggalkan sesuatu di masa lalu dan aku takkan menemukannya di masa depan. Itu perubahan kan? Tapi perubahan sesungguhnya tak semudah itu, seperti hidup ini yang kadang berjalan tak mudah.

Setahun yang lalu, aku pesimis dengan nilai raporku. peringkatku turun lima peringkat, dari empat menjadi sembilan. Aku merasa malu pada ibu yang mengambil raporku. Sebenarnya apa yang aku lakukan di sekolah? Wali kelasku berkata peringkatku turun drastis. Sepertinya aku terlalu banyak bermain dan berkubang dalam masalah yang tidak penting. Pikiranku tidak konsentrasi, diriku tidak bisa fokus. Aku kaget melihat peringkatku yang terjun bebas itu. Dan aku bersikap realistis menghadapinya dengan berkata, “Yah, ga bisa dapet PMDK deh ini.” wajar saja aku berkata begitu, karena untuk mendapat PMDK nilai rapotkuk harus mningkat, minimal stabil. Tidak terjun bebas seperti nilaiku saat ini.

Tak lama setelah itu, aku mengikuti sebuah training dari sekolah. Pembicaranya membahas tentang perubahan. “Berubahlah, agar kita bisa masuk ke lingkungan yang baik dan meraih masa depan yang lebih baik.” Kira-kira itu yang diucapkan penbicara. Seperti John F. Kennedy yang mengatakan: ‘Change is the law of life. And those who look only yo yhe past or present are certain to miss the future’. Aku termotivasi untuk melakukan perubahan, untuk mengorbankan sesuatu yang membuatku tidak fokus. Rasa semangat berkobar di dalam hatiku. Hal mendasar dari berubah adalah berkorban. Maka aku mengorbankan persoalan cinta, sesuatu yang membuatku tidak fokus. Sebagai murid SMA menurutku wajar saja kalau mempunyai perasaan suka ke lawan jenis. Tapi aku harus berubah, mka aku putuskan untuk tidak berpacaran. Lagipula sudah ada yang memberiku segalanya, yang menjamin semua yang kulakukan di dunia ini.

Setengah tahun kemudian USMI IPB dibuka. ‘ini yang aku tunggu’ aku senang dalam hati. Krena aku sungguh ingin masuk IPB. Sangat ingin. Segera aku mendaftar untuk mengikuti USMI dan mengambil mayor Teknologi Pangan. Kulihat di daftar peminat dan jumlah yang diterima, perbandingannya jauh. Belum lagi dengan peringkatyang menurun. Tapi apa salahnya dicoba? Thomas Alfa Edison saja menemukan bohlam setelah mencoba lebih dari 1000 kali. Pasti bisa, pasti! Aku optimis, namun tetap ada sedikit rasa khawatir. 1 bulan kemudian hasil USMI keluar. Hanya ada 5 orang yang mendapat USMI. Dan aku bersyukur menjadi salah satu dari 5 orang itu. Kata yang dulu sempat keluar dari mulutku berubah. Aku bisa mendapat PMDK! Ternyata Tuhan itu adil dan Maha Tahu. Setelah itu, aku iseng-iseng mendaftar lowongan pekerjaan di sebuah tempat bimbel., tak disangka aku bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari tempat bimbel itu. Sungguh beruntung sekali aku, dan aku tidak menyesal telah mengorbankan hal-hal yang aku senangi dulu. Dan prinsip yang saat ini aku pegang: korbankan sesuatu yang kecil untuk mendapatkan hal yang lebih besar!

Take the Chance, Get the Victory

Ketika diberitahu untuk membuat sebuah cerita dari seorang tokoh yang menginspirasi, otakku menghantarkan stimulus yang menghasilkan bayangan ayahku. Ayahku, seorang yang selalu memotivasi, beliau sering berbagi cerita pengalamannya. Banyak sekali cerita yang telah diceritakan beliau dan banyak juga dari cerita itu yang menginspirasiku. Memotivasi untuk melakukan sesuatu yang bisa menjadi cerita yang memotivasi orang lain. Salah satu dari ceritanya, ketika beliau mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah manajemen di Jakarta.

Cerita ini bermula ketika ayahku baru saja lulus kuliah. Sebagai seorang fresh graduate, beliau sedang mencari pekerjaan. Namun, hingga beberapa bulan sejak kelulusannya, ayahku masih menganggur. Padahal uang untuk bertahan hidup makin menipis. Satu hal yang pasti, beliau harus segera mendapat pekerjaan atau apapun yang dapat membuat beliau bertahan hidup. Informasi terus ayahku cari, mading di kampus dihampirinya setiap hari. Suatu hari teman ayahku mampir ke kost-an dan memberi kabar bahwa ada beasiswa untuk bersekolah di salah satu sekolah manajemen di Jakarta. Dijamin langsung kerja, bisa dapat uang saku juga.

Hidup memang tak semudah yang dibayangkan, sekitar 200 orang mendaftar beasiswa itu, namun kau tahu berapa yang akan menerima basiswa itu? Delapan, hanya delapan orang dari 200 yang mendaftar. Itu berarti hanya ada 1 orang yang diambil dari 25 orang. Tapi tekad ayahku bulat, beliau tetap mendaftar dan berusaha untuk mendapatkannya. Walaupun peluangnya kecil. Dengan IPK yang tidak terlalu tinggi dan jurusan yang jauh dari manajemen—biologi, tapi beliau tetap optimis. Take risks: if you win, you will be happy; if you lose, you will be wise. “Ambil saja tantangannya, kalau dapat beasiswa itu lumayan bisa kuliah gratis dan dapat pekerjaan, kalau tidak ya ga apa-apa. Yang penting sudah berusaha. Jangan lupa, mantapkan tekad dan tujuan. Itu kunci utamanya” begitu kata ayahku.

Kau tahu, untuk mendapat beasiswa memang tidak mudah. Setelah beliau mendaftar ada banyak tahapan yang harus dilauinya. Seleksi transkrip nilai, test tertulis, psikotest dan tahap akhirnya wawancara. Hanya ada 20 orang yang masuk ke tahap wawancara, dan ayahku masuk ke dalam 20 oran gitu. Sistem wawancaranya unik, 5 orang dikumpulkan dalam satu ruangan dan mereka diadu pendapat satu sama lain. “Asal kamu teguh memegang pendapat kamu dan berusaha mempertahankannya saja. Percaya diri, dan percaya kalau pendapat kita benar.” cerita ayahku. Empat orang yang wawancara dengan ayahku adalah teman akrab beliau. Mereka saling beradu pendapat, tidak peduli mereka teman akrab atau apapun. Nah, ketika pengumuman beasiswa itu keluar, ayahku dan keempat teman akrabnya mendapat beasiswa itu.

Setahun itu, ayahku selesai menempuh program studi di sekolah manajemen itu. Benar saja, tak lama setelah itu beliau langsung mendapat pekerjaan. Dengan jabatan yang cukup tinggi. Setelah itu karir ayahku melejit. Ternyata keputusan untuk mengambil tantangan itu tidak sia-sia. Tantangan yang dulu terlihat tajam seperti duri sekarang selembut awan yang mengangkat ayahku menggapai apa yang dicita-citakannya. Aku jadi berpikir, mengapa tidak kuambil tantangan untuk menjadi mapres? Kalau pun tak dapat aku sudah mendapat sesuatu yang baru.